Beranda | Artikel
Penguatan Aqidah dan Menanamkan Kecintaan terhadap Al-Quran pada Anak
1 hari lalu

Penguatan Aqidah dan Menanamkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 29 Sya’ban 1447 H / 17 Februari 2026 M.

Kajian Tentang Penguatan Aqidah dan Menanamkan Kecintaan terhadap Al-Qur’an pada Anak

Salah satu poin penting dalam penguatan aqidah adalah memupuk kecintaan anak kepada Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan Kalamullah, firman Rabb semesta alam yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. 

Tingkatan Interaksi dengan Al-Qur’an

Menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an memiliki beberapa tingkatan yang harus dilakukan secara bertahap:

1. Kegemaran Membaca (Tilawah) Orang tua harus memberikan pengetahuan dasar tentang tilawatul Qur’an yang benar. Membaca Al-Qur’an dengan kaidah tajwid dan tahsin yang baik sangat berbeda dengan membacanya secara asal-asalan. Al-Qur’an diperintahkan untuk dilantunkan dengan indah.

2. Menghafal Al-Qur’an (Tahfidz) Kemampuan membaca dengan makhraj huruf yang tepat menjadi modal penting untuk menghafal. Bacaan yang salah akan menyulitkan anak dalam proses menghafal. Masa kanak-kanak adalah waktu yang paling tepat untuk melatih daya ingat karena otak mereka belum terbebani banyak hal. Sebaik-baik perkara yang dihafal oleh manusia adalah Al-Qur’an.

3. Merenungi Makna (Tadabbur) Interaksi dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada sekadar membaca dan menghafal. Anak perlu diarahkan untuk memiliki rasa ingin tahu terhadap isi kandungan ayat yang mereka baca. Tadabbur adalah tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an. 

Kecenderungan untuk mendalami Al-Qur’an tidak muncul dengan sendirinya, melainkan harus dirangsang, dilatih, dan diarahkan oleh pendidik, terutama orang tua. Pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an adalah modal ilmu yang cukup bagi anak untuk menjalankan agama dengan baik.

Lihat juga: Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an

Momentum Bulan Ramadhan: Menumbuhkan Minat dan Kecintaan Anak terhadap Kedalaman Al-Qur’an

Bulan Ramadhan, yang dikenal sebagai Syahrul Qur’an atau bulan Al-Qur’an, merupakan momentum yang tepat untuk memperbanyak interaksi anak dengan kitab suci ini. Orang tua harus memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan perhatian anak terhadap Al-Qur’an, mulai dari memperbaiki bacaan, menambah hafalan, hingga menggali kandungan maknanya.

Minat anak untuk mendalami, mengupas, atau bertanya tentang isi Al-Qur’an tidak muncul secara mendadak. Hal tersebut memerlukan bimbingan intensif dari orang tua di rumah serta guru di sekolah. Keinginan tahu anak terhadap isi Al-Qur’an harus dipicu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an bukan sekadar untuk menunjukkan mukjizat yang membuat manusia terpesona. Al-Qur’an diturunkan sebagai obat (syifa) bagi penyakit jasmani maupun rohani, sekaligus sebagai pembimbing manusia dalam menjalani hidup.

Banyak persoalan hidup yang jawabannya terdapat di dalam Al-Qur’an bagi mereka yang mau mentadaburinya. Sebagai contoh, Imam Syafi’i dahulu mengeluarkan ribuan faedah hanya dari satu ayat karena beliau berusaha menggali maknanya sedalam-dalamnya. Al-Qur’an adalah lautan ilmu yang tidak akan pernah habis digali dasarnya karena ia merupakan Kalam Rabb semesta alam.

Kedalaman Tadabbur Al-Qur’an

Ketertarikan manusia untuk mendalami Al-Qur’an sangat bergantung pada dorongan di dalam dirinya. Sebagai contoh, hampir semua orang menghafal dan membaca Surah Al-Fatihah dengan lancar. Namun, tingkat pemahaman dan kedalaman tadabbur terhadap kandungannya berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain. Di sinilah manusia seharusnya berlomba-lomba menggali faedah yang masih tersembunyi.

Al-Qur’an yang turun 15 abad yang lalu tetap menjadi rujukan utama bagi manusia di zaman modern. Tidak ada kitab suci dari langit yang diturunkan setelah Al-Qur’an untuk menggantikannya, dan tidak ada pula yang mampu meniru keagungannya. 

Kecintaan dan kedekatan dengan Al-Qur’an harus ditanamkan di hati anak-anak melalui metode yang sesuai dengan dunia mereka. Salah satu sisi yang sangat menarik bagi anak-anak adalah kisah-kisah di dalam Al-Qur’an (Ahsanal Qashash). Kisah-kisah tersebut mencakup berbagai peran teladan, seperti Nabi Nuh dan Nabi Yakub sebagai sosok ayah, Nabi Ibrahim sebagai sosok anak, serta kisah orang-orang saleh sebagai suami maupun istri.

Kisah-kisah ini penuh dengan hikmah dan mampu menjawab berbagai pertanyaan serta masalah yang dihadapi manusia saat ini. Selain kisah manusia, Al-Qur’an juga menceritakan keajaiban ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti semut, lebah, dan berbagai flora serta fauna lainnya. Orang tua dapat mengemas informasi tersebut sedemikian rupa agar menarik minat anak untuk mendalaminya.

Menjadikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Panutan Utama Anak

langkah berikutnya adalah membimbing dan mengarahkan anak untuk mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta sunnah-sunnah beliau. Upaya menjadikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai panutan dan idola utama anak dilakukan dengan memperkenalkan sunnah-sunnah beliau, terutama hikmah yang terkandung di baliknya. Aktivitas sehari semalam yang dilakukan anak merupakan sarana yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai ini. Pendidikan tidak boleh berhenti pada sekadar pengajaran, tetapi juga harus mencakup penjelasan mengenai latar belakang perintah tersebut.

Sebagai contoh, dalam aktivitas makan, Islam mengajarkan untuk menggunakan tangan kanan, menjilati jemari setelah makan, serta berdoa sebelum dan sesudah makan. Orang tua dapat memberikan referensi mengenai manfaat makan menggunakan tangan serta hikmah di balik setiap adab tersebut. Hal ini penting agar anak memahami bahwa tidak ada sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang hampa dari hikmah. 

Penjelasan mengenai hikmah sunnah akan menumbuhkan kecintaan anak kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Anak akan menyadari bahwa Nabi benar-benar menginginkan kebaikan bagi umatnya. Pernyataan bahwa Nabi sangat menyayangi umatnya tidak boleh hanya disampaikan secara verbal, tetapi harus dibuktikan melalui sunnah-sunnah praktis. 

Salah satu contoh lainnya adalah sunnah tidur siang (qailullah). Jika orang tua hanya memerintah anak untuk tidur siang atas nama sunnah tanpa memberikan penjelasan, hasilnya tidak akan optimal. Namun, jika dijelaskan bahwa hikmah ukhrawinya adalah untuk menyelisihi kebiasaan setan dan hikmah duniawinya adalah untuk memberikan kesegaran serta kesehatan jantung, anak akan melaksanakannya dengan penuh kesadaran.

Menghindari Budaya Taklid pada Anak

Orang tua dan pendidik harus meningkatkan kualitas penyampaian ilmu agar tidak bersifat monoton atau sekadar komando. Anak-anak secara alami memiliki rasa ingin tahu yang besar. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh merasa jengkel ketika anak banyak bertanya. Perintah untuk sekadar mengikuti tanpa alasan hanya akan mendidik anak menjadi seorang muqallid (ahli taqlid) yang terbiasa mengikuti sesuatu tanpa memahami tujuannya.

Kebiasaan mendidik anak dengan cara melarang bertanya akan mematikan kemampuan mereka untuk mengkritisi sesuatu. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk bertanya sebagai sarana menuntut ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl[16]: 43).

Menuntut ilmu adalah proses bertanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering menggunakan metode tanya jawab untuk memancing para sahabat agar mampu memberikan jawaban. Metode ini sangat baik untuk menyehatkan akal anak, menghidupkan nalar, dan melatih mereka berpikir secara sistematis.

Pentingnya Menjelaskan Hikmah Sunnah

Orang tua perlu menjelaskan alasan di balik sebuah sunnah, seperti mengapa makan harus menggunakan tangan kanan atau mengapa disunnahkan menjilati jari setelah makan. Jika hikmah ini tidak dijelaskan, anak rentan terpapar propaganda negatif di media sosial yang berusaha menanamkan kebencian terhadap sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tanpa latar belakang ilmu, anak mungkin akan melihat sunnah tersebut sebagai sesuatu yang kotor atau tidak luar biasa, bahkan bisa berujung pada keraguan terhadap pribadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kemampuan berpikir kritis pada anak adalah anugerah yang harus diarahkan oleh pendidik, terutama orang tua. Mematikan nalar anak sama berbahayanya dengan membiarkannya liar tanpa kendali. Oleh karena itu, orang tua jangan enggan menjelaskan faedah dan hikmah di balik sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jawaban seperti “lakukan saja tanpa banyak tanya” hanya akan membuat anak mencari jawaban di tempat lain. Jika mereka mendapatkan informasi yang salah, hal itu dapat berakibat fatal bagi keimanan mereka.

Apabila anak memahami keajaiban di balik sunnah sehari semalam, akan muncul rasa kagum yang mendalam kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Secara otomatis, beliau akan menjadi sosok idola dan teladan (rule model) utama yang berdampak langsung pada kualitas kehidupan anak.

Membiasakan Dialog tentang Hakikat Kehidupan

Orang tua perlu membiasakan dialog dengan anak mengenai hal-hal mendasar seperti tujuan kehidupan dan hakikat dunia. Hal-hal ini mungkin tidak terpikirkan oleh anak jika tidak dipancing melalui obrolan. Sebagai contoh, Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma pernah memancing keponakan-keponakannya dengan bertanya tentang cita-cita mereka. Ketika mereka memberikan jawaban khas anak-anak, Ibnu Umar menyampaikan jawaban yang sarat hikmah:

“Cita-cita paman adalah masuk surga.”

Melalui pertanyaan sederhana tentang cita-cita, beliau sebenarnya sedang memperkenalkan konsep surga sebagai orientasi tertinggi seorang muslim. Meskipun ada ungkapan untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, bagi seorang muslim, cita-cita tertinggi berada di atas langit, yaitu meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan masuk ke dalam surga-Nya. 

Tujuan dari setiap dialog sederhana ini adalah menanamkan keimanan kepada anak, khususnya mengenai surga dan neraka, dapat dilakukan melalui pendekatan dialogis. Sebagaimana teladan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma saat bertanya kepada keponakannya mengenai cita-cita mereka. Ketika anak-anak memberikan jawaban yang beragam, beliau menjelaskan bahwa cita-cita beliau adalah masuk surga.

Pernyataan tersebut bertujuan untuk memancing rasa ingin tahu anak tentang hakikat surga dan alasan mengapa tempat tersebut layak menjadi cita-cita tertinggi. Dialog seperti ini sangat efektif untuk mempertebal, menambah, dan meningkatkan kepercayaan serta keimanan anak kepada perkara gaib. 

Pelajaran mengenai aqidah atau ushuluddin (pokok-pokok agama) tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal di sekolah. Motivasi belajar di sekolah sering kali terbatas pada upaya mendapatkan nilai ujian atau sekadar syarat kelulusan. Sebaliknya, pendidikan iman yang diberikan orang tua di rumah atau melalui majelis ilmu khusus anak memiliki kesan yang lebih mendalam dan interaktif.

Membawa anak ke majelis ilmu umum sering kali kurang efektif karena materi yang disampaikan biasanya ditujukan untuk orang dewasa. Hal ini sering mengakibatkan anak merasa tidak terlibat, kemudian bermain sendiri hingga dianggap mengganggu. Oleh karena itu, orang tua perlu meluangkan waktu untuk berdialog secara khusus dengan anak agar mereka merasa diajak berinteraksi. Melalui dialog ini, orang tua dapat membicarakan hal-hal yang melampaui imajinasi mereka, yang pada gilirannya akan mengasah kedewasaan dan menanamkan rasa tanggung jawab dalam menjalani hidup.

Urgensi Mengimani Surga dan Neraka

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan perihal surga dan neraka di dalam Al-Qur’an sebagai peringatan bahwa keduanya adalah tempat tinggal terakhir bagi manusia. Tidak ada tempat ketiga selain keduanya. Keimanan terhadap surga dan neraka adalah fondasi utama bagi anak untuk memiliki motivasi kuat dalam berbuat baik dan meninggalkan keburukan.

Fenomena krisis iman di kalangan pemuda yang secara terang-terangan menyatakan ketidakpercayaan mereka terhadap akhirat adalah hal yang sangat mengkhawatirkan. 

Seseorang yang tidak lagi mempercayai keberadaan surga dan neraka cenderung akan bertindak sesuka hati terhadap sesama manusia. Hal ini sangat berbahaya karena asas pokok dasar kebaikan adalah keimanan kepada surga. Keinginan meraih surga merupakan motivasi tertinggi bagi seseorang untuk konsisten berbuat baik. Tanpa motivasi tersebut, konsistensi seseorang dalam melakukan kebaikan akan mudah goyah saat menghadapi rintangan.

Demikian pula dengan keberadaan neraka yang berfungsi sebagai motivator bagi anak untuk menjauhi dosa. Seseorang mungkin saja menjauhi keburukan karena alasan lain, namun ia tidak akan memiliki benteng yang kuat saat menghadapi godaan setan. Salah satu tipu daya setan adalah meruntuhkan keimanan manusia terhadap hari pembalasan. Oleh karena itu, sejak dini anak harus ditanamkan keyakinan bahwa surga dan neraka adalah nyata. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ

“…Dan bahwa surga itu benar adanya, dan neraka itu benar adanya.” (HR. Bukhari).

Menanamkan Landasan Aqidah yang Aplikatif

Metode penanaman aqidah sejak dini akan memudahkan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai positif serta menjauhkan anak dari perkara negatif di masa depan. Aqidah yang benar bukan sekadar kepercayaan lisan, melainkan pondasi yang harus diwujudkan dalam amal perbuatan dan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Demikian materi mengenai penanaman aqidah dan kecintaan terhadap Al-Qur’an ini disampaikan, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita semua.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56084-penguatan-aqidah-dan-menanamkan-kecintaan-terhadap-al-quran-pada-anak/